Kurangi Berkata “Jangan” Pada Anak-Anak

Belakangan saya menyadari banyak hal tentang “mendidik” dan “mengajar”, selama ini ada beberapa kata-kata yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku secara bertahap. Kata-kata tersebut diantaranya “Jangan”, “tidak boleh”, atau “dilarang” karena tanpa disadari kata-kata tersebut akan berakibat menstimulasi otak anak pada waktu yang lama dan tanpa disadari bahwa otak anak tersebut tidak akan mengenal kata ‘Jangan’ atau ‘tidak boleh’.

Salah satu contoh diantaranya :

Jika seorang guru berkata kepada muridnya untuk menutup matanya sejenak lalu berkata “setelah kamu buka matamu, maka jangan melihat tulisan yang ada dipapan tulis”. Lalu dibukannya mata murid tersebut maka yang pertama kali akan dilihat adalah tulisan yang ada di papan tulis. Anda bisa mencobanya sendiri dikelas. Apalagi jika kita berkata kepada anak kita “anakku nanti kalau sudah besar kamu jangan merokok ya”, “Rokok itu tidak baik dan merusak kesehatan…” Maka diwaktu dia menganjak remaja dia akan menjadi seorang anak yang perokok. Karena tanpa disadari otak kita akan membuang semua kata jangan yang disampaikan oleh ayah atau ibunya. Kata yang tertanam diotak adalah “Anakku kalau sudah besar kamu merokok ya..?” Jika kita melihat sekolah kita dengan tulisan “Jangan Buang sampah Sembarangan” kita akan tetap saja buang sampah dimana saja. Atau dengan kata “Jangan Mencorat-coret dinding, meja atau pagar” tetap saja kan tulisan ada dimana-mana. Bisa juga peringatan “Jangan makan didalam kelas” yang makan dikelas tetap saja ada. itu kan peraturan yang dari sejak kita masuk TK sampai Kuliah ada. (sumber)

Dari sisi parenting atau sudut pandang pola asuh orang tua, seringkali kita mendengar orangtua berkata “Jangan nakal, jangan lakukan itu, jangan kesana… nanti ada tikus” ataupun kata kata negatif lainnya. Dan pada intinya adalah menakut nakuti atau mengancam anak agar tidak melakukan aktivitas yang tidak disukai orang tuanya.

Dari berbagai artikel tentang parenting skills disebutkan bahwa dengan semakin sering kita menggunakan kata kata negatif untuk anak, secara tidak langsung kita juga ikut menanamkan pola pikiran negatif kedalam pikiran bawah sadar anak. Hasilnya, anak anak akan gampang menyerah, malas, kurang bersemangat mencoba hal hal baru karena takut salah.

Memang, untuk menghilangkan kata kata “jangan” 100% saat berkomunikasi dengan anak, boleh dibilang sangat tidak mungkin bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi kalimat negatif atau sebaliknya menambah dan memperbanyak kosa kata kalimat positif untuk anak.

Salah satu contoh kalimat negatif adalah “Nak, jangan mainan terus! ayo belajar sekarang, cepat!” dengan kalimat seperti ini, anak anak sudah merasa gak nyaman dan belajar pun pasti dengan perasaan tertekan. Coba kalo kita gunakan kalimat positif “Nak… mainan boleh aja, tapi sekarang sudah waktunya belajar.. ayo belajar dulu biar tambah pintar”. Terlihat bedanya ? ya, kalimat positif tersebut akan membuat anak belajar dengan perasaan tenang dan semangat. (sumber)

Dalam berbagai artikel lain saya sempat membaca bahwa kata-kata akan terhubung dengan logika berfikir, jadi karena itulah ketika seseorang melihat atau mendengar kata “jangan”, “tidak boleh” atau “dilarang” maka yang terjadi adalah orang tersebut akan melakukan hal yang sebaliknya. Kenapa? karena rasa ingin tahu lah yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Hal ini juga dapat disebut dengan ‘logika terbalik’.

Logika merupakan hal yang sederhana tetapi sangat penting dalam penggunaannya sehari-hari, dalam sudut pandang anak-anak dan orang dewasa, logika ini tidak jauh berbeda, kenapa? karena sifat logika yang cenderung akan sama ketika masa anak-anak dan melanjut dewasa karena faktor pendidikan awal si anak dan pola asuh anak.

Jadi, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah kurangi menggunakan kata-kata atau kalimat negatif seperti “jangan”, “tidak boleh” atau “dilarang” sebaliknya perbanyaklah kalimat atau kata yang bersifat positif  dan memberi semangat kepada anak.

Berikut adalah cara penggunaan kata untuk mengajarkan pesan-pesan positif.

  1. Sesuaikan penggunaan kata “Jangan” dari waktu ke waktu. Kata jangan dapat dipergunakan untuk menghindari sebuah bahaya. Misal kompor panas. Anak-anak pra sekolah mendengar kata ‘Jangan’ merupakan interaksi negative social. Anak remaja mendengar kata ‘Jangan’ dalam menanggapi permintaan masalah mereka. Emosi penggunaan kata “Jangan’ sebagai penghambat dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
  2. Membedakan antara permintaan yang wajar dan yang tidak masuk akal.
  3. Gunakan kata ‘Jangan’ konsisten untuk pengaruh yang maksimal. Jika anak kita mengetahui bahwa orangtua akan memperbolehkan sesuatu yang sudah dibilang ‘Jangan’ maka mereka telah belajar ‘Jangan’ tidak benar benar bararti ‘Jangan’. Kosistensi sangat penting dalam brinteraksi dengan anak,
  4. Mengganti pilihan jika orang tua pernah berkata ‘Jangan’. Misal “Boleh beli jajanan asalkan jajanannya X, Y, Z”
  5. Memperkuat nilai-nilai dengan mengatakan ‘Jangan’ dengan sikap yang tenang. Jika orangtua memberikan nada yang tingg terhadap anak dengan menggunakan kata ‘Jangan’ maka itu akan beresiko anak merasa terasing. Jika kita melihat anak sedang menonton film yang bukan pada waktunya maka kita bisa dengan mengatakan “Maaf ya TV, Divanya belajar dulu, kan besoknya mau sekolah, dah TV…” ini saya rasa akan lebih efektif.
  6. Mendengarkan alasan anak dan memvalidasi perasaannya meskipun itu bukan suatu yang wajib untuk menjelaskan setiap penolakan anak kita. Alangkah lebih baiknya kita membangun komunikasi atas setiap penolakan-penolakan tersebut. Dengan mendengarkan argument dari anak kita dan mendengarkan alasan-alasan mereka itu jauh lebih baik walaupun kita tahu bahwa jawaban tersebut tetap ‘Jangan’.
  7. Ajarkan tanda berhenti. Bahkan pada saat bayipun dengan cara menggunakan bahasa tubuh. Menggigit putting anda dalam menyusui maka akan terdengar kata ‘aduh’ tanda di wajah anda. Atau pertama kali meraih sesuatu yang berbahaya dan wajah kita akan terlihat seperti alarm.
  8. Buat alternative untuk kata ‘Jangan’. Jika kita mengatakan ‘jangan’ secara terus menerus maka kata ini akan kehilangan kekuatannya. Gunakannya kata-kata yang lebih spesifik yang sesuai dengan situasi. Contoh: Jika anak kita mendekati suatu kotoran binatang dalam bak sampah maka reaksi orang tua pasti akan mengatakan ‘Jangan’ tetapi diikuti kata “Kotor, itu akan membuat kamu sakit nak!” Jika dilain waktu sang anak menemukan hal seperti itu makan itu akan membatu anak mempelajari dengan baik dan bak sampah akan kehilangan daya tariknya. Istilah “Stop” adalah pelindung bukan hukuman. Kata ‘Jangan’ mengundang benturan kehendak. Anak yang berkemaun keras biasanya akan berhenti sebentar untuk mengevaluasi kata “Stop” atau “Berhenti”, seolah-olah mereka merasa ada bahaya didepan. Terkadang anak berfikiran untuk sering mengabaikan kata ‘Jangan’ jika mereka sudah sering mendengarkan seribu kali sebelumnya. Istilah ‘Stop’ atau ‘Berhenti’ akan kehilangan nilainya jika dilakukan secara berlebihan.
  9. Personalisasikan ‘Jangan’. Dengan kita mengatakan ‘Jangan’ maka lebih baik dengan nada lebut dan ditambahkan dengan nama anak anda. Ini adalah merupakan penghormatan kepada anak tersebut sehingga ada penghormatan bagi pendengar lainnya.
  10. Suatu saat anak kita akan melawan. Pada saat anak akan keluar rumah dan diminta untuk kembali maka dia akan menolaknya. Hal seperti ini maka yang terjadi adalah penunjukkan siapa bos sebenarnya dalam keluarga. Alangkah baiknya jika orangtua dengan perasaan yang halus dan menunjukkan wajah yang sedih maka anak akan lebih tersentuh hatinya untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif

Mulai sekarang hindari pemakaian kata “JANGAN” dengan kata-kata yang memiliki arti positif dan diterima oleh otak kita.

  1. “Nak kalau sudah besar Kamu Jangan Merokok ya” ganti dengan “nak kalau sudah besar jadi anak yang sehat ya”
  2. “Nak jangan jadi anak yang nakal ya” ganti dengan “Nak kalau sudah besar kamu harus menjadi anak yang baik, berbakti, sopan dan pintar.

Hal lain yang akan saya share adalah tentang metode komunikasi yang baik dengan anak anak dengan menggunakan pendekatan yang menarik tentang cara cara efektif untuk mengambil alih perhatian anak tanpa mengeluarkan energi yang terlalu banyak. Ketika menghadapi siswa di sekolah yang sedang gaduh/ramai dengan tidak menggunakan kata “jangan”.

  1. berdiri di depan kelas, bisa di tengah atau di salah satu sisi papan tulis, sembari memegang buku, spidol, ataupun mendekapkan kedua tangan di dada
  2. pasang ekspresi wajah yang cool dan serius, satu-persatu pandangi wajah siswa dan berusaha menatap matanya
  3. menerapkan prinsip ‘theory of attraction’, dalam pikiran saya membuat sebuah pesan singkat, “harap tenang jika ingin pelajaran dimulai” , lalu bayangkan seolah-olah saya punya koneksi lewat sinyal bluetooth atau wifi dengan otak mereka untuk mengirim pesan itu
  4. memang harus sabar karena butuh waktu, makin tinggi usia siswa, makin cepat mereka merespon sikap diam saya tersebut
  5. biasanya, beberapa siswa yang sudah memiliki kematangan sikap dan punya motivasi belajar mulai resah, “Pak, sekarang ngapain?” “Ayo, Pak. Pelajarannya dimulai.”
  6. nah, ini respon positif, saya tinggal bilang, “Saya menunggu semuanya siap untuk belajar.”
  7. tanpa disuruh dan tanpa harus saya yang menarik urat leher untuk berteriak menyuruh mereka tenang, anak-anak sendiri yang menyuruh teman-temannya yang masih gaduh untuk tenang, “Hoooiii! Diam po’o, Rek! Pak Novri mau mulai pelajaran!”
  8. masih dengan ekspresi yang cool dan serius, saya bilang, “Terima kasih buat siswa yang sudah siap menerima pelajaran dan berusaha menyuruh temannya tenang. Jadi, saya hanya akan memulai pelajaran jika kalian sudah siap dan suasana tenang. Saya tidak akan bersaing suara dengan kalian yang berjumlah 15 – 30 orang karena saya pasti kalah. Sekiranya memang tidak tertarik belajar Matematika/Fisika, ya monggo boleh kok beraktifitas yang lain di luar kelas.”
  9. tujuan tercapai: para siswa tenang, saya tidak keluar banyak energi, pesan moral tersampaikan, dan saya masih tampil bermartabat di depan siswa.  (sumber)

Baiklah, sekian informasi dari saya semoga bermanfaat.

Sumber:

http://emboen.wordpress.com/2012/01/16/jangan-berkata-jangan-berlebihan-kepada-anak/

http://permatatk.wordpress.com/2012/09/12/kurangi-berkata-jangan-pada-anak-anak/

http://nesandhi.wordpress.com/2012/08/10/jangan-bilang-jangan-secara-berlebihan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s